PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memperkuat aliran pendapatan dengan ekspansi ke sektor energi dan proyek petrokimia baru setelah transformasi strategis yang berjalan sejak beberapa tahun terakhir.
Langkah ini menandai pergeseran dari ketergantungan pada satu aset cracker menjadi platform usaha yang mencakup energi, kimia, dan infrastruktur dengan pendapatan diperkirakan mencapai US$ 7–10 miliar.
Pencapaian Akuisisi dan Implikasi Keuangan
Penyelesaian akuisisi aset Shell Singapore melalui entitas Aster pada 2025 menambah lini bisnis energi TPIA. Transaksi itu mencakup kilang berkapasitas 237 ribu barel per hari dan fasilitas cracker berkapasitas 1,1 juta ton per tahun.
Menurut analis Verdhana Sekuritas Indonesia, Michael Wildon Ng dan Nizam Syafik, langkah tersebut mengurangi ketergantungan TPIA pada petrokimia yang sempat tertekan margin akibat kelebihan kapasitas di China. Mereka mencatat segmen energi kini menyumbang 55% dari pendapatan kuartal I-2026.
Kontribusi Aster Terhadap Laba
Integrasi Aster memberikan dorongan pada laba operasional. TPIA membukukan EBIT konsolidasian tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 468 juta dan laba bersih US$ 205 juta pada kuartal I-2026.
Dari transaksi Aster senilai US$ 255 juta, perusahaan mencatat penguatan aset senilai US$ 1,7 miliar dan EBIT segmen energi sebesar US$ 556 juta hanya pada kuartal I-2026. Keuntungan satu kali ini memperkuat neraca dan membuka ruang pendanaan utang, tetap sesuai batas covenant DER maksimal 1 kali.
Faktor Margin dan Proyeksi Kilang
Michael dan Nizam memperkirakan margin pengilangan acuan Singapura akan tetap kuat, dengan crack spread diperkirakan bertahan di atas US$ 10 per barel. Mereka menambahkan bahwa gangguan pasokan terkait Iran kemungkinan berlanjut sehingga mendukung margin tersebut.
Dalam kondisi konflik di Timur Tengah sebelumnya, crack spread sempat mencapai US$ 30 per barel, sementara sebelum konflik berada di bawah US$ 5 per barel.
Proyek CA-EDC sebagai Sumber Pertumbuhan
Sumber pertumbuhan lain datang dari proyek CA-EDC senilai US$ 800 juta yang dikembangkan bersama Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA). Proyek ini akan memproduksi soda kaustik 400 ribu ton per tahun dan 500 ribu ton ethylene dichloride (EDC) per tahun di Cilegon, dengan target operasional pada 2027.
EDC menjadi bahan baku utama industri PVC, sehingga fasilitas ini diposisikan sebagai pemasok penting bagi pasar domestik.
Perubahan Struktur Kepemilikan dan Perdagangan Saham
TPIA meningkatkan porsi saham publik (free float) dari sekitar 10% menjadi 25,7%, melebihi ketentuan minimal 15% di pasar modal. Perubahan ini sejalan dengan penyesuaian kepemilikan SCG Chemicals yang tengah menjalankan strategi deleverage; SCG masih memegang sekitar 15,71% saham TPIA.
Tiga pemegang saham utama—Barito Pacific, SCGC, dan Thai Oil—masih menguasai sekitar 74,3% saham. Analis mencatat valuasi saham TPIA diperdagangkan pada estimasi PER 2026 sekitar 15,1 kali, sejalan dengan rata-rata proyeksi perusahaan sejenis global sebesar 15–16 kali.
Arah Strategi dan Tata Kelola
Manajemen menyatakan perubahan struktur kepemilikan tidak mengubah tata kelola, manajemen, maupun arah strategis perusahaan. TPIA akan tetap fokus pada agenda pertumbuhan di sektor energi, kimia, dan infrastruktur di dalam negeri serta kawasan Asia Tenggara.
Ikuti Ihram.co.id
