— Jalan Jembatan Tiga Raya, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, kembali lumpuh total setelah terendam banjir setinggi sekitar 80 sentimeter pada Minggu (18/1/2026) pagi. Kondisi ini memutus akses lalu lintas dari kedua arah, menyebabkan sejumlah besar kendaraan roda dua mogok dan hanya truk kontainer serta armada logistik bermesin tinggi yang mampu melintas.

Ketinggian air yang mencapai sepinggang orang dewasa ini dilaporkan memicu fenomena water hammer pada sepeda motor, di mana air masuk ke ruang bakar melalui saringan udara dan knalpot, mengakibatkan kerusakan mesin.

Akibatnya, jalur vital yang menghubungkan Pluit dengan Penjaringan ini berubah menjadi area evakuasi mandiri, dengan banyak pengendara terpaksa mendorong motor mereka di tengah genangan air.

Baca Juga: Hujan Deras Semalaman, Enam RT Jakarta Terendam Banjir Pagi Ini

Dampak Kelumpuhan dan Peringatan Warga

Seorang warga yang terpantau melalui siaran langsung media sosial TikTok pada Minggu pagi melaporkan, “Jalanan lumpuh total. Banyak pengendara motor yang mogok karena nekat menerjang air yang sangat tinggi. Hanya kontainer besar yang masih bisa bergerak.”

Situasi ini sangat mengkhawatirkan mengingat debit air belum menunjukkan tanda-tanda surut. Cuaca ekstrem yang melanda Jakarta dan sekitarnya disebut-sebut memperlambat proses pembuangan air ke muara, memperparah genangan di kawasan pesisir tersebut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sendiri telah mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir (rob) yang diperkirakan akan berlangsung hingga 20 Januari 2026.

Fenomena ini terjadi akibat pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan fase bulan baru, memicu peningkatan tinggi muka air laut di wilayah pesisir utara Jakarta, termasuk Pluit. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, mengimbau masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

“Masyarakat pesisir perlu meningkatkan kesiapsiagaan mengingat durasi pasang tinggi bisa berlangsung beberapa hari berturut-turut,” ujar Isnawa Adji pada Selasa (13/1/2026).

Ia juga mengingatkan warga untuk menghindari aktivitas di daerah pesisir yang berisiko terkena banjir rob, terutama saat puncak pasang, serta memastikan sistem drainase di sekitar rumah berfungsi baik.

Insiden Banjir Berulang dan Penanganan

Ini bukan kali pertama Jembatan Tiga Pluit terendam banjir parah dalam bulan Januari 2026. Sebelumnya, pada Senin (12/1/2026), kawasan Jalan Jembatan Tiga Raya juga dilanda banjir yang menyebabkan kemacetan parah dan mengganggu layanan transportasi publik.

Genangan air saat itu mencapai ketinggian lutut hingga paha orang dewasa. Bahkan, sebuah bus TransJakarta sempat mogok dan mengeluarkan asap hitam di tengah genangan air, sementara banyak kendaraan pribadi terjebak.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya bahkan sempat memberlakukan diskresi dengan mengizinkan sepeda motor melintas di ruas Tol Dalam Kota, khususnya melalui Gerbang Tol Jembatan Tiga, untuk mengurai kemacetan akibat lumpuhnya jalan arteri.

Kebijakan darurat ini diambil karena Jalan Yos Sudarso dan Pluit Raya tidak dapat dilalui kendaraan roda dua. Namun, rekayasa lalu lintas ini hanya berlangsung sekitar 20 menit sebelum kondisi lalu lintas kembali normal setelah genangan mulai surut pada sore harinya.

Penyebab banjir pada 12 Januari 2026 umumnya disebutkan karena curah hujan tinggi yang mengguyur Jakarta sejak dini hari. Sementara itu, kondisi topografis Jakarta sebagai dataran rendah yang menjadi muara bagi 13 aliran sungai besar, serta fenomena penurunan permukaan tanah, juga memperparah risiko banjir, termasuk banjir rob.

Baca Juga: Update 10 Titik Banjir Bekasi 18 Januari, Kebalen dan Tambun Utara Siaga Satu

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah melakukan upaya antisipasi banjir rob, termasuk dengan pembetonan tanggul di kawasan Pantai Mutiara Pluit yang ditargetkan selesai pada tahun 2027.

Hingga Minggu pagi ini, pengendara dari arah Penjaringan maupun Pluit disarankan untuk memutar arah atau mencari rute alternatif melalui jalan layang. BPBD DKI Jakarta juga terus mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan dan mengkoordinasikan penyedotan air bersama dinas terkait, serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.