Bank Indonesia (BI) memperingatkan potensi tekanan pada inflasi pangan seiring prakiraan berlangsungnya El Nino pada akhir Juni hingga November 2026. Fenomena cuaca ini dinilai berisiko menurunkan produktivitas pertanian, terutama komoditas hortikultura, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di sejumlah daerah.

Untuk merespons risiko tersebut, BI memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), serta memperluas langkah pengendalian di lapangan.

Dorongan Untuk Menjaga Inflasi Dalam Sasaran

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menegaskan target inflasi tetap 2,5% ± 1% untuk 2026 dan 2027. “Memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5% ± 1%, jadi paling tinggi kita 3,5% ini masih dalam target tersebut,” kata Aida dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juni 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (18/6/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08%. Dari komponen pembentuknya, inflasi harga yang diatur pemerintah tercatat 2,07% dengan andil 0,40%.

Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,59% dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi nasional sebesar 1,66%. Kelompok harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi tahunan 6,24% dengan andil 1,02%.

Dampak El Nino dan Upaya BI di Daerah

Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali mengatakan intensitas El Nino diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan dan dapat menurunkan produktivitas hortikultura, terutama di kawasan Indonesia Timur. “Mengenai risiko El Nino, kita lihat bahwa intensitas El Nino ini diperkirakan akan meningkat. El Nino berisiko menurunkan produktivitas terutama hortikultura di beberapa wilayah, khususnya kawasan Indonesia Timur,” ujar Ricky.

BI telah menugaskan 46 kantor perwakilan di seluruh Indonesia untuk memperkuat implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program ini difokuskan pada penguatan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga pangan di daerah.

Hasil kajian BI menunjukkan perkembangan inflasi mulai dipengaruhi faktor cuaca. Inflasi di 25 provinsi masih berada dalam rentang sasaran, namun 13 provinsi mencatat inflasi relatif tinggi.

Beberapa provinsi dengan inflasi tertinggi pada Mei 2026 antara lain Papua Barat 5,94%, Aceh 5,12%, dan Kalimantan Tengah 4,55%.

Ricky menyebut tekanan inflasi tersebut menyebabkan kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.