Hampir pukul 04.00 waktu Arab Saudi ketika langkah-langkah pelan menapak naik ke puncak Jabal Nur, Kamis (18/6/2026). Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun udara Makkah yang sejuk sudah menyertai para peziarah dalam perjalanan menuju Gua Hira.

Tempat kecil di lereng gunung itu dipandang sebagai titik bersejarah bagi umat Islam karena di sinilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, berupa Surat Al-Alaq ayat 1-5, pada 17 Ramadan sekitar tahun 610 Masehi.

Gua Hira terletak di puncak Jabal Nur yang menjulang sekitar 634 meter di atas permukiman Makkah. Dari ketinggian tersebut, panorama Kota Makkah tampak membentang, termasuk kompleks Masjidil Haram yang terlihat dari kejauhan.

Jarak lokasi dari Masjidil Haram tak lebih dari sekitar empat kilometer, tetapi medan menuju puncak menuntut stamina. Anak tangga dan jalur berbatu menguji kesabaran dan fisik peziarah, meski kini beberapa bagian telah ditata lebih rapi.

Pada dini hari itu, tim Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang berjumlah 17 orang melakukan napak tilas ke Gua Hira. Setapak demi setapak dilalui hingga mencapai area puncak dan ruangan gua yang berukuran relatif kecil.

Sepanjang pendakian, rombongan bertemu ratusan jemaah dari berbagai negara, termasuk Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, sejumlah negara Afrika, dan Turki. Tujuan mereka sama: menyaksikan langsung lokasi turunnya wahyu pertama.

Perjalanan menuju puncak berlangsung sekitar satu setengah jam bagi rombongan MCH. Bagi peziarah yang kurang terbiasa mendaki, medan ini terasa menguras tenaga, tetapi semangat untuk tiba di Gua Hira tetap membara.

“Ayo sebentar lagi kita sampai Gua Hira,” kata Abdul Kholik, ketua rombongan MCH, untuk menyemangati rekan-rekannya saat menanjak.

Berbeda dengan kondisi berabad-abad lalu, jalur kini memiliki susunan anak tangga yang lebih rapi dan beberapa selter peristirahatan. Pedagang juga tampak menawarkan air minum, makanan ringan, dan suvenir khas Makkah bagi peziarah yang singgah sejenak.

Sesampainya di puncak, rombongan MCH melaksanakan Salat Subuh berjamaah sebelum melanjutkan ke Gua Hira. Dari titik tersebut, pemandangan Kota Makkah menghadirkan suasana hening dan khidmat bagi banyak pengunjung.

Salah seorang jemaah haji asal Nganjuk, Jawa Timur, Ali Mukti, menceritakan pengalamannya. Ia termasuk yang berhasil mencapai Gua Hira setelah berangkat sekitar pukul 01.00 Waktu Arab Saudi dan tiba di puncak lebih cepat, sekitar satu jam perjalanan ditambah setengah jam istirahat.

Meski medan menantang, Ali menyatakan siapa saja dapat mencapai Gua Hira dengan niat kuat dan persiapan yang memadai. Menurutnya, kondisi fisik yang baik serta persediaan makanan dan minuman menjadi penopang penting selama perjalanan.

“Innamal a’malu binniyat dan selawat Shollu ala Sayyidina Muhammad,” ucap Ali sambil berselawat setelah menyelesaikan pendakian.