— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan potensi cuaca ekstrem di Jakarta masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Intensitas hujan lebat yang disertai angin kencang dan kilat diperkirakan masih dapat terjadi hingga menjelang akhir Januari 2026, seiring dinamika atmosfer yang belum stabil.

Dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas tinggi telah memicu banjir dan genangan di sejumlah wilayah Jakarta serta mengganggu aktivitas masyarakat.

BMKG mencatat Jakarta termasuk wilayah yang terdampak cuaca ekstrem secara berulang pada periode sepekan terakhir Januari.

Baca Juga: Banjir Jakarta Pagi Ini: 106 RT dan 14 Ruas Jalan Tergenang

BMKG: Dinamika Atmosfer Masih Mendukung Hujan Lebat

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan gangguan atmosfer yang terpantau saat ini masih mendukung pertumbuhan awan hujan secara signifikan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jakarta dan sekitarnya.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujar Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resmi BMKG, dikutip Rabu (21/1/2026).

Ia menambahkan, meskipun terdapat indikasi fluktuasi intensitas hujan setelah 23 Januari, potensi hujan lebat tidak bisa diabaikan mengingat sifat atmosfer yang dinamis.

“Dinamika atmosfer saat ini masih menunjukkan kondisi yang memungkinkan terbentuknya awan hujan dengan intensitas tinggi, sehingga masyarakat perlu terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG,” kata Faisal.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Belum Berakhir, BMKG: Hujan Sangat Lebat Mengintai Sejumlah Wilayah hingga Akhir Januari

Bibit Siklon dan Monsun Asia Jadi Faktor Utama

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, cuaca ekstrem di Jakarta dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer, salah satunya kemunculan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia.

“Bibit Siklon Tropis 97S terpantau memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot dengan tekanan udara minimum 1001 hPa. Pergerakan sistem ini ke arah barat dapat memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatera hingga Nusa Tenggara,” ujar Andri, dikutip dari keterangan resmi BMKG.

Menurut Andri, kondisi tersebut meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jakarta.

Selain itu, Monsun Asia diperkirakan masih menguat hingga beberapa hari ke depan dan diperkuat oleh seruakan dingin atau cold surge dari daratan Asia.

“Kombinasi monsun Asia dan seruakan dingin ini meningkatkan kecepatan angin dan mendorong pembentukan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa,” kata Andri.

BMKG juga mencatat aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin yang didukung nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif. Kondisi tersebut, ditambah tingginya kelembapan udara dan labilitas atmosfer, semakin meningkatkan potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem.

OMC Jakarta Diperpanjang hingga 27 Januari

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) hingga Selasa, 27 Januari 2026. Keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi dan rekomendasi BMKG.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan perpanjangan OMC dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko hujan ekstrem di wilayah Jakarta.

“Kami terus memantau prediksi cuaca dari BMKG. Jika masih diperlukan, operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan sampai tanggal 27 Januari,” ujar Isnawa saat dikonfirmasi, dikutip Kamis (22/1/2026).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Pemprov DKI telah menyiapkan anggaran OMC untuk satu bulan penuh yang bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam APBD.

“Kami sudah menganggarkan operasi modifikasi cuaca untuk satu bulan penuh dari BTT, termasuk kemungkinan pergeseran anggaran jika memang dibutuhkan,” ujar Pramono, dikutip dari pernyataannya kepada wartawan.

Pramono juga meminta agar modifikasi cuaca tidak hanya difokuskan di Jakarta, tetapi mencakup wilayah penyangga.

“Kami minta BMKG tidak hanya konsentrasi di Jakarta, tetapi juga wilayah sekitar seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor agar dampak hujan ekstrem bisa ditekan dari hulu,” kata Pramono.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Landa Jakarta, Pemprov DKI Imbau ASN dan Pekerja Swasta WFH hingga 28 Januari

Imbauan Kewaspadaan untuk Warga Jakarta

BMKG mengimbau masyarakat Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di luar ruang. Warga diminta mewaspadai potensi hujan lebat, angin kencang, serta risiko banjir dan genangan yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas terkait guna meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.