— Dominasi Ducati di MotoGP dalam beberapa musim terakhir mulai dipertanyakan setelah hasil mengejutkan terjadi pada seri pembuka MotoGP 2026 di Thailand. Manajer pembalap veteran, Carlo Pernat, menilai situasi terbaru menunjukkan bahwa pabrikan asal Italia itu kini terlalu bergantung pada sosok Marc Marquez.

Pernyataan tersebut muncul setelah Ducati gagal menempatkan satu pun pembalapnya di podium pada balapan utama di Sirkuit Buriram. Hasil ini sekaligus mengakhiri rekor impresif Ducati yang sebelumnya selalu menempatkan setidaknya satu pembalap di podium dalam 88 balapan berturut-turut.

Baca Juga: Ducati Dihantam Kritik Usai MotoGP Thailand, Marc Marquez Dinilai dalam Masalah Besar

Rekor Podium Ducati Terhenti di Thailand

Pada balapan pembuka musim tersebut, dominasi Ducati justru terpatahkan oleh performa kuat Aprilia. Pabrikan Noale bahkan mampu menempatkan empat pembalapnya di lima besar, sementara Ducati harus puas dengan hasil yang jauh dari ekspektasi.

Marc Marquez sebenarnya sempat berpeluang menyelamatkan reputasi Ducati ketika ia bersaing memperebutkan posisi ketiga. Namun, pembalap asal Spanyol itu terpaksa mengakhiri balapan lebih awal akibat masalah teknis pada motornya.

Hasil terbaik Ducati akhirnya diraih oleh Fabio Di Giannantonio dari tim VR46 yang finis di posisi keenam. Sementara itu, rekan setim Marquez di tim pabrikan, Francesco Bagnaia, hanya mampu mengakhiri balapan di posisi kesembilan.

Baca Juga: Rekor Podium Ducati Terputus di MotoGP Thailand 2026, Marc Marquez: Tak Perlu Panik

Carlo Pernat: Kedatangan Marquez Mengubah Dinamika Ducati

Menurut Carlo Pernat, kondisi ini menunjukkan dampak besar dari perekrutan Marc Marquez oleh Ducati. Ia menilai kehadiran juara dunia berkali-kali tersebut secara tidak langsung mengubah keseimbangan internal tim, terutama terhadap performa Francesco Bagnaia.

Pernat bahkan menyebut Bagnaia mengalami tekanan psikologis setelah harus bersaing langsung dengan Marquez di dalam satu garasi.

“Ducati saat ini sedang membayar harga dari keputusan merekrut Marc Marquez. Kedatangannya sedikit ‘menghancurkan’ Bagnaia secara mental. Sekarang Ducati praktis hanya memiliki satu pembalap yang benar-benar kompetitif, yaitu Marquez,” ujar Pernat dalam wawancara dengan media Italia.

Ia juga menilai beberapa pembalap Ducati lainnya belum mampu tampil konsisten untuk mendukung dominasi tim seperti pada musim-musim sebelumnya.

Baca Juga: Bagnaia Ungkap Biang Kerok Performa Buruknya di MotoGP 2025, Terlalu Banyak Intervensi di Garasi

Aprilia Dinilai Mengalami Lompatan Besar

Di sisi lain, Pernat juga memberikan pujian kepada Aprilia yang dinilai telah membuat kemajuan signifikan. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran direktur teknis Fabiano Sterlacchini serta manajer tim Massimo Rivola dalam mengembangkan motor RS-GP.

Performa kuat Aprilia di Thailand menjadi bukti bahwa persaingan MotoGP musim 2026 berpotensi lebih terbuka dibandingkan beberapa tahun terakhir ketika Ducati tampil sangat dominan.

Ducati Tetap Diuntungkan dengan Kehadiran Marquez

Meski menilai Ducati kini terlalu bergantung pada Marquez, Pernat tetap mengakui bahwa perekrutan sang pembalap adalah langkah yang masuk akal. Marquez sendiri tampil luar biasa pada musim sebelumnya dengan meraih gelar juara dunia setelah mencatatkan 11 kemenangan dari 18 balapan.

Keberhasilan tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang Marquez setelah sempat mengalami cedera serius pada 2020 yang sempat membuat kariernya terancam.

Baca Juga: Francesco Bagnaia Akui Ducati Tak Lagi Tercepat, Aprilia Racing Dominasi MotoGP Thailand 2026

Dengan reputasi dan pengalaman yang dimilikinya, Marquez tetap menjadi tumpuan utama Ducati dalam perebutan gelar MotoGP 2026, meskipun tekanan kini semakin besar untuk membuktikan bahwa tim asal Borgo Panigale tersebut tidak hanya bergantung pada satu pembalap saja.