— Pembalap Ducati, Francesco Bagnaia, akhirnya buka suara terkait penurunan performanya sepanjang MotoGP 2025. Juara dunia dua kali itu menyebut terlalu banyak intervensi dan “kebisingan” di dalam garasi tim menjadi salah satu faktor utama yang menghambatnya menemukan kembali performa terbaik.

Setelah selalu finis pertama atau kedua di klasemen akhir sejak promosi ke tim pabrikan pada 2021, Bagnaia harus mengakhiri musim lalu di posisi kelima. Catatan tersebut menjadi kemunduran signifikan bagi pembalap Italia bernomor #63 itu.

Baca Juga: Francesco Bagnaia Akui Ducati Tak Lagi Tercepat, Aprilia Racing Dominasi MotoGP Thailand 2026

Penurunan Tajam Performa

Bersama Ducati Lenovo Team, Bagnaia hanya mampu meraih dua kemenangan Grand Prix dan dua kemenangan Sprint sepanjang musim 2025. Ia juga tercatat empat kali gagal menembus sesi kualifikasi Q2 serta mengalami enam kali gagal finis dalam tujuh balapan terakhir musim.

Situasi tersebut kontras dengan performanya pada 2024, ketika ia membukukan 11 kemenangan dan 16 podium dalam persaingan sengit perebutan gelar melawan Jorge Martin.

Dalam sebuah podcast yang direkam tahun lalu, Bagnaia mengakui bahwa dinamika di dalam tim berubah drastis saat hasil mulai menurun.

‘Seribu Pertanyaan’ di Garasi

Menurut Bagnaia, ketika performanya mulai merosot, manajemen dan staf teknis Ducati semakin aktif mengajukan pertanyaan setiap kali ia kembali ke garasi. Kondisi tersebut justru membuat situasi semakin rumit.

“Dalam situasi sulit, semua orang ingin menyampaikan pendapatnya. Ketika kami tampil baik, saya kembali ke garasi dan berdiskusi dengan crew chief dan teknisi inti. Tahun lalu berbeda, saya datang dan semua orang bertanya. Terlalu banyak kebisingan,” ujar Bagnaia.

Ia menyebut situasi itu seperti dihujani “seribu pertanyaan” yang pada akhirnya membuat arah pengembangan motor menjadi tidak jelas. Hubungan kerja yang sebelumnya solid dengan kru inti pun terganggu karena banyaknya masukan dari berbagai pihak.

Bagnaia juga mengakui bahwa bahkan jajaran teknis tertinggi Ducati tidak mampu memberinya solusi instan atas masalah adaptasi dengan motor GP25.

Kesalahan Strategi Adaptasi Motor

Selain faktor internal, Bagnaia menyadari kesalahan pribadinya dalam pendekatan teknis. Ia mengaku terlalu berusaha membuat GP25 terasa seperti GP24 yang sangat kompetitif musim sebelumnya.

“Saya mungkin terlalu yakin bisa mengulang performa GP24. Padahal karakter motor sudah berubah. Saya mencoba berbagai cara agar motor ini kembali seperti versi sebelumnya, tapi itu tidak berhasil,” katanya.

Ia menyebut upaya tersebut sebagai pemborosan waktu, meskipun tetap mengapresiasi kerja keras para mekanik yang berulang kali membongkar dan memasang ulang komponen demi memenuhi berbagai eksperimen setelan.

Baca Juga: Bagnaia Kesulitan di Sprint MotoGP Thailand 2026, Grip dan Adaptasi Ducati Jadi Kendala

Tantangan Musim Terakhir?

Laporan yang berkembang di paddock menyebut Bagnaia telah menandatangani kontrak dengan Aprilia Racing untuk musim 2027. Jika benar, maka musim ini akan menjadi periode terakhirnya bersama Ducati dalam kerja sama yang selama ini menghasilkan dua gelar juara dunia.

Di sisi lain, spekulasi juga menyebut Pedro Acosta berpeluang menggantikannya dan menjadi rekan setim baru Marc Marquez di masa mendatang.

Performa Bagnaia pada seri pembuka di Thailand pun belum menunjukkan kebangkitan. Ia hanya mampu start dari posisi ke-13 dan finis kesembilan di dua balapan, dalam akhir pekan yang juga tergolong sulit bagi Ducati secara keseluruhan.

Baca Juga: Francesco Bagnaia Masih Tak Percaya Rekor 88 Podium Ducati Terputus di MotoGP Thailand 2026

Dengan tekanan internal yang sempat mengganggu fokus dan perubahan besar di masa depan, musim ini menjadi momentum krusial bagi Bagnaia untuk membuktikan bahwa ia masih layak berada di barisan terdepan MotoGP.