Ihram.co.id — Juara dunia MotoGP asal Spanyol Marc Marquez kembali mendapat sorotan setelah legenda balap motor Australia Casey Stoner menyebutnya sebagai “final boss” di ajang MotoGP 2026. Stoner menilai dominasi Marquez di kelas premier masih sulit ditandingi, bahkan menyebut para rival belum mampu memanfaatkan kelemahan yang pernah dimiliki pembalap tersebut.
Dalam wawancara terbaru dengan media otomotif Crash.net, Stoner mengungkapkan faktor yang menurutnya membuat Marquez berada di level berbeda dibanding pembalap lain di grid MotoGP.
Baca Juga: Casey Stoner Ungkap Alasan Marc Marquez Sulit Dikalahkan di MotoGP
Rival Dinilai Terlalu Takut Menghadapi Marquez
Menurut Stoner, banyak pembalap memandang Marc Marquez sebagai sosok yang hampir mustahil dikalahkan. Persepsi tersebut justru membuat para rival kehilangan fokus untuk mengembangkan strategi yang efektif saat menghadapi pembalap Spanyol itu di lintasan.
Ia menyebut para pembalap cenderung melihat Marquez sebagai tantangan yang sangat sulit, alih-alih mencari celah atau meningkatkan kemampuan untuk menandingi gaya balapnya.
“Semua orang melihatnya seperti ‘final boss’. Alih-alih mencari cara mengalahkannya atau memperbaiki diri mereka sendiri, mereka hanya melihatnya sebagai kompetitor yang sangat sulit,” ujar Stoner.
Stoner juga mengungkapkan bahwa Marquez sebenarnya pernah memiliki kelemahan besar di masa lalu. Namun ia menilai tidak ada pembalap yang mampu mengeksploitasi celah tersebut.
Meski demikian, mantan juara dunia MotoGP itu menolak mengungkap detail kelemahan yang dimaksud.
“Marc pernah memiliki kelemahan besar yang saya rasa tidak pernah disadari siapa pun, dan saya tetap tidak akan mengatakan apa itu. Yang mengejutkan, tidak ada yang mampu memanfaatkannya,” kata Stoner.
Pernyataan ini memperkuat anggapan bahwa dominasi Marquez tidak hanya berasal dari kemampuan teknis, tetapi juga faktor mental dan strategi balap yang sulit dibaca lawan.
Manajemen Ban Jadi Senjata Utama
Selain kecepatan dan agresivitas, Stoner menyoroti kemampuan Marquez dalam mengelola kondisi ban sebagai salah satu keunggulan terbesar yang sering luput dari perhatian.
Menurutnya, banyak pengamat hanya melihat gaya balap agresif Marquez tanpa memahami strategi yang ia terapkan sepanjang balapan, termasuk menjaga performa ban untuk mempertahankan kecepatan hingga akhir lomba.
Stoner menilai kesabaran Marquez dalam menjaga ban sepanjang musim 2025 menjadi faktor penting yang mendukung konsistensinya meraih hasil maksimal.
“Banyak orang tidak memahami apa yang dia lakukan dalam balapan untuk menjaga ban. Mereka hanya melihat satu gaya balap, padahal dia memainkan strategi berbeda setiap pekan,” jelas Stoner.
Potensi Rivalitas Dua Generasi Juara Dunia
Casey Stoner merupakan salah satu pembalap paling sukses dalam sejarah MotoGP. Ia meraih gelar juara dunia bersama Ducati Corse pada 2007 dan kembali menjadi kampiun pada 2011 bersama Repsol Honda Team.
Meski sama-sama dikenal memiliki bakat alami luar biasa, Stoner tidak pernah berduel langsung dengan Marquez di kelas premier. Stoner memutuskan pensiun pada akhir musim 2012, sementara Marquez baru melakukan debut MotoGP pada 2013.
Sejumlah pengamat menilai, jika keduanya berada di lintasan pada periode yang sama, rivalitas Stoner dan Marquez berpotensi menjadi salah satu persaingan terbesar dalam sejarah balap motor.
Baca Juga: Jorge Lorenzo Ungkap Transformasi Marc Marquez, Kini Lebih Dewasa dan Presisi di MotoGP
Pernyataan Stoner menegaskan posisi Marquez sebagai tolok ukur performa pembalap di MotoGP 2026. Kombinasi kecepatan, kecerdasan strategi, serta kemampuan membaca balapan dinilai menjadikannya standar tertinggi yang harus dikejar para rival.
Dengan reputasi sebagai “final boss”, Marquez diperkirakan masih akan menjadi tantangan utama bagi pembalap generasi baru yang ingin mematahkan dominasinya di kelas premier.
Ikuti Ihram.co.id
