Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum mencantumkan pemanfaatan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) sebagai alternatif pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) rumah tangga dalam postur anggaran 2027.

Asumsi volume LPG bersubsidi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (R-APBN) 2027 tetap disusun sebesar 8 juta metrik ton, serupa dengan tahun berjalan.

Alokasi Anggaran ESDM 2027

Pagu indikatif Kementerian ESDM untuk 2027 tercatat Rp27,33 triliun. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, disepakati sekitar 82% dari pagu tersebut atau sekitar Rp22,48 triliun akan dialokasikan untuk program yang langsung dirasakan masyarakat.

Upaya menekan konsumsi LPG tabung 3 kg yang dicantumkan dalam dokumen anggaran masih berfokus pada perluasan jaringan gas (jargas) dan pemanfaatan kompor listrik. Dalam pagu tahun jamak disebutkan alokasi Rp5,2 triliun untuk 959.232 sambungan jargas hingga 2028. Sementara program kompor listrik mendapat alokasi Rp815,6 miliar.

Posisi Program CNG Dalam APBN

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, menyatakan program substitusi energi idealnya tercantum dalam mata anggaran APBN. Menurut dia, alokasi diperlukan untuk infrastruktur, sarana, atau perhitungan subsidi jika diperlukan.

Bisman menambahkan alokasi anggaran yang sudah ditetapkan, seperti untuk kompor listrik, tidak bisa langsung dialihkan ke program CNG tanpa persetujuan dan mekanisme perubahan anggaran.

— “Bukan berarti kalau [anggaran program CNG] sekarang tidak ditetapkan lantas itu dibatalkan. Alokasi tersebut bisa saja ditempatkan di pos lain atau nanti bisa melalui mekanisme perubahan APBN,” kata Bisman.

Rencana Impor Tabung CNG

Kementerian ESDM berencana mengimpor 100 ribu tabung CNG kemasan 3 kg dari China karena industri dalam negeri dipandang belum mampu memproduksi tabung dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Impor ini dimaksudkan sebagai tahap awal penggunaan CNG untuk rumah tangga.

Infrastruktur dan Kelayakan

Pendiri ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menyebut kandungan energi CNG dan LPG dapat saling menggantikan, sehingga CNG bisa menjadi subtitusi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. Dia menyarankan pengembangan CNG dikombinasikan dengan jaringan pipa sehingga rumah tangga dapat menikmati pasokan melalui sambungan jargas, bukan hanya tabung.

“Jadi kalau akan dipakai untuk menggantikan LPG rumah tangga-industri, perlu dibangun infrastrukturnya dulu. Setidaknya meliputi fasilitas untuk meng-compressed gas dan jaringan pipa distribusinya untuk sampai ke end user,” kata Pri Agung.

Pri Agung menuturkan pengembangan CNG memerlukan dukungan APBN agar sambungan jargas dapat berkembang lebih masif. Jika dikembangkan oleh badan usaha, kajian mendalam terkait keekonomian dan pengembalian investasi perlu dilakukan.

Dia juga menyatakan keunggulan pasokan untuk CNG berasal dari gas dalam negeri, sehingga tidak tergantung impor, namun infrastruktur harus dipersiapkan terlebih dulu.

Aspek Teknis dan Keamanan

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan program konversi LPG ke CNG masih berada pada tahap uji coba. Pengujian difokuskan untuk memastikan aspek keselamatan (safety) CNG dalam kemasan tabung 3 kg.

Bahlil menyebut Lemigas turut dilibatkan dalam proses uji coba untuk mendapatkan teknologi tabung 3 kg yang ringan seperti tabung gas “melon” 3 kg.

“Untuk CNG yang 12 kg, yang 20 kg itu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kg. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes,” kata Bahlil.

Alasan Konversi

Bahlil mengungkapkan negara menanggung beban devisa hingga sekitar Rp140 triliun per tahun akibat impor lebih dari 8 juta metrik ton LPG. Harga impor LPG yang tinggi membuat negara memasukkan harga jual yang didatangkan dari luar dalam skema subsidi, sehingga negara menahan fluktuasi harga agar tidak terbebani daya beli masyarakat.

Menurut penjelasan yang disampaikan, jika konversi berhasil, komponen bahan baku CNG bersumber dari sumur migas nasional berupa metana (C1) dan etana (C2). Sedangkan komponen LPG, yakni propana (C3) dan butana (C4), tidak dimiliki secara signifikan oleh sumur migas domestik.