Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Pemerintah Iran mengumumkan penutupan sementara Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Keputusan itu diambil menyusul serangan udara yang dilakukan Israel di wilayah selatan Lebanon.
Penutupan jalur pelayaran strategis ini diberlakukan sebagai respons atas apa yang disebut komando militer Iran sebagai pelanggaran gencatan senjata dan “pelanggaran kontrak” oleh Amerika Serikat terkait kesepakatan yang baru dicapai beberapa hari sebelumnya.
Saling Tuduh Di Medan Perang
Menurut pernyataan resmi militer Iran, Selat Hormuz ditutup untuk semua lalu lintas kapal karena adanya pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis di Lebanon selatan. Pernyataan itu menyebut tindakan Israel sebagai momentum yang melanggar perjanjian.
Pihak Israel membela serangannya sebagai tindakan defensif. Seorang pejabat militer Israel menyatakan bahwa pasukan mereka diserang oleh lebih dari 50 proyektil yang ditembakkan oleh Hizbullah ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan.
Hizbullah menolak klaim tersebut dan menuding Israel menyusup ke kawasan strategis Bukit Ali Taher yang menghadap Kota Nabatieh. Seorang anggota parlemen dari faksi Hizbullah menyatakan kelompoknya berhak menghadapi serangan yang dilakukan oleh Israel.
Dampak Korban Sipil
Serangan yang saling berbalas itu menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil. Di wilayah Nabatieh, laporan lokal menyebutkan serangan udara menghantam 20 lokasi dan menewaskan 16 orang.
Di dekat Kota Sidon, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan tujuh orang tewas dan 13 lainnya luka-luka akibat serangan di sebuah desa setempat.
Konsekuensi Diplomatik
Insiden ini langsung berdampak pada jadwal diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Rangkaian dialog lanjutan yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss terpaksa ditunda tanpa batas waktu.
Meski pertemuan tingkat menteri ditunda, delegasi teknis dari AS, Iran, Pakistan, dan Qatar dilaporkan tetap berada di Swiss untuk menjaga jalur komunikasi. Utusan khusus AS dilaporkan bertolak ke Swiss untuk mencoba mengembalikan proses negosiasi.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan yang muncul saat ini merupakan kelanjutan dari eskalasi besar pada awal Maret lalu, ketika Hizbullah melancarkan serangan roket besar-besaran sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran dalam serangan udara gabungan AS dan Israel. Peristiwa itu memperdalam keterlibatan Lebanon dalam konflik regional.
Hubungan antara Israel dan Lebanon tetap tegang dan tanpa hubungan diplomatik resmi. Upaya gencatan senjata yang sempat diupayakan sebelumnya runtuh sebelum bisa diimplementasikan secara efektif, sementara keterlibatan aktor-aktor besar seperti Iran dan AS membuat konflik ini memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas.
Ikuti Ihram.co.id
