Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dinilai memberi tekanan nyata terhadap industri otomotif nasional. Pelaku usaha memperkirakan konsumen akan menunda pembelian mobil karena mayoritas transaksi masih dilakukan melalui kredit.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan suku bunga yang lebih tinggi memperpanjang pertimbangan konsumen sebelum memutuskan membeli kendaraan baru, yang biasanya melibatkan komitmen pembiayaan selama empat hingga enam tahun.

“Mayoritas pembeli kendaraan bermotor, terutama mobil, itu menggunakan kredit. Kalau kreditnya naik, orang pasti berpikir lebih panjang. Akhirnya mereka menunda pembelian. Kalau orang menunda beli, jumlah yang terjual juga akan terpengaruh,” ujar Kukuh.

Kukuh memperingatkan dampak berkelanjutan dapat menimbulkan efek rantai pada produksi dan ketenagakerjaan. Saat penjualan melambat, produsen berpotensi mengurangi produksi, menerapkan efisiensi operasional, hingga memangkas jam kerja pekerja.

“Kalau produksi berkurang, efisiensi harus dilakukan. Bisa dalam bentuk pengurangan jam kerja atau pengurangan shift,” kata Kukuh.

Data Penjualan dan Target Nasional

Gaikindo mencatat penjualan wholesales Januari–Mei 2026 mencapai 359.015 unit, sementara retail sales 359.490 unit. Pada Mei 2026, wholesales berada di 69.219 unit dan retail sales 71.890 unit.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai kenaikan suku bunga akan lebih cepat terasa pada kredit kendaraan baru melalui pengetatan syarat pembiayaan, kenaikan uang muka, perubahan tenor, serta seleksi debitur.

Meski target penjualan nasional 850 ribu–900 ribu unit masih mungkin tercapai, Josua menyebut capaian itu membutuhkan upaya lebih besar dibanding rata-rata penjualan pada lima bulan pertama 2026. Target mendekati satu juta unit dianggap memerlukan capaian per bulan yang sulit di tengah tekanan suku bunga dan pelemahan daya beli.

Respons Pasar: Konsumen Cenderung Menunggu

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan kenaikan BI Rate bertahap akan mendorong bunga pembiayaan kendaraan naik dan memperketat persyaratan kredit, sehingga pembeli ritel cenderung bersikap wait and see.

Yannes menambahkan, jika BI Rate terus naik hingga mencapai sekitar 6%, tekanan pada retail otomotif akan semakin besar dan bisa memaksa industri melakukan penyesuaian struktural yang luas. “Penurunan volume penjualan yang berlanjut berisiko mengganggu stabilitas pendapatan jaringan diler dan pabrikan,” ujar dia.

Sebagai langkah adaptasi, Yannes menyarankan produsen mengalihkan fokus ke segmen kendaraan niaga yang menyasar pembeli korporasi dan memperkuat efisiensi rantai pasok lokal untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Dua Tantangan Serentak

Selain suku bunga, industri juga menghadapi volatilitas nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Menurut Yannes, kombinasi biaya pembiayaan yang tinggi dan pelemahan kurs akan meningkatkan biaya produksi karena ketergantungan pada komponen impor, yang pada akhirnya menekan minat beli.

Kukuh mengonfirmasi industri menghadapi tekanan ganda itu dan berharap kondisi ekonomi kembali normal sehingga pelaku usaha dan konsumen mendapat kepastian. “Kita harapkan nilai tukar lebih masuk akal dan lebih ramah bagi pelaku usaha. Di sisi lain, bunga juga bisa kembali normal sehingga konsumen senang membeli barang,” kata Kukuh.

Meski menghadapi tantangan, Kukuh belum berencana merevisi target penjualan tahun ini. Ia masih berharap faktor eksternal dapat membaik pada paruh kedua 2026.

Alasan Kenaikan BI Rate

Dalam sebulan terakhir, Bank Indonesia menaikkan BI Rate total 100 basis poin untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Kebijakan dimulai dengan kenaikan 50 bps dari 4,75% ke 5,25% pada Mei 2026, lalu bertambah 25 bps menjadi 5,5% pada rapat Dewan Gubernur 9 Juni 2026.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan langkah tersebut bertujuan meningkatkan daya tarik instrumen keuangan demi mendorong masuknya modal asing dan memperkuat pasokan valuta asing dalam negeri. “Tujuan utama kami adalah menarik inflow dan menambah pasokan valas. Ini sesuai dengan kebutuhan perekonomian kita saat ini, terutama untuk memenuhi kebutuhan dolar AS,” ujar Destry.

Selain menaikkan BI Rate, BI juga meningkatkan imbal hasil SRBI tenor 12 bulan yang saat ini berada di kisaran 7,5%, sementara yield SBN sempat di atas 7% sebelum turun ke sekitar 7,02%.