Tim Layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 5 di Makkah menunjukkan dedikasi tinggi dalam mendampingi ribuan jemaah lansia selama hampir dua bulan tugas. Petugas melakukan berbagai layanan, dari visitasi hotel hingga pendampingan ibadah umrah dan fase puncak haji.

Dalam tugasnya, Landis menangani kebutuhan personal dan kesehatan jemaah, termasuk yang dalam kondisi kritis, serta mengatur kelonggaran jadwal bagi lansia agar dapat beristirahat sebelum melaksanakan ibadah di Masjidil Haram.

Peran Koordinator dan Tim

M. Ridho Prabowo bertugas sebagai Koordinator Layanan Lansia dan Disabilitas. Ia menyatakan bersyukur dapat bekerja langsung melayani lansia dan disabilitas, serta menyebut pelaksanaan tugas dilakukan dengan ikhlas dan ketulusan.

Petugas lain, Abdul Aziz dan Muhammad Rosi, menceritakan pengalaman haru dan melelahkan selama pengabdian. Menurut mereka, momen pendorongan jemaah menuju umrah wajib kerap menjadi saat paling menyentuh, mulai dari pengawalan di hotel hingga penempatan di Terminal Syib Amir dan koordinasi untuk memenuhi kebutuhan kursi roda.

Skala Pelayanan dan Prosedur

Sektor 5 membawahi 18 hotel dengan total jemaah lansia sekitar 3.800 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 jemaah berstatus kritis yang membutuhkan pengawalan intensif, termasuk pendampingan selama umrah wajib dan puncak haji.

Untuk menjamin kenyamanan lansia, tim memberikan satu hari penuh istirahat pasca-kedatangan sebelum jadwal menuju Masjidil Haram, berbeda dengan jemaah sehat yang biasanya diberangkatkan setelah enam jam istirahat.

Layanan Personal di Hotel

Di hotel, layanan Landis kerap bersifat sangat personal. Petugas membantu jemaah yang tidak didampingi keluarga dengan tugas seperti menyuapi, mengganti popok, memandikan, hingga membantu keperluan kamar mandi. Beberapa jemaah non-lansia yang mengalami stroke juga rutin menghubungi petugas ketika membutuhkan bantuan.

“Lama-kelamaan mereka terbuka. Sembari memandikan, kami bercengkrama tentang keluarga mereka di rumah. Malah setelah itu, mereka selalu meminta bantuan kami lagi karena tidak tahu harus bersandar kepada siapa lagi selain petugas,” ujar Aziz.

Awalnya beberapa jemaah merasa canggung terhadap tindakan yang sangat personal, tetapi pendekatan persuasif dan ketulusan petugas mampu membangun kepercayaan.

Ujian Saat Fase Armuzna

Puncak tugas diuji saat fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) melalui program Safari Wukuf Lansia. Sektor 5 menempatkan 38 jemaah lansia kritis di hotel transit khusus dan menerapkan patroli kondisi setiap 15 menit selama 5–7 hari.

Petugas mencatat waktu tidur yang sangat terbatas pada masa ini, hanya berkisar satu hingga dua jam per hari. Tantangan terbesar muncul saat merawat jemaah dengan gejala demensia aktif.

Koordinasi dan Motivasi

Kepala Sektor 9 Daerah Kerja Makkah, Arienta Nurcahya, mengatakan sejak awal menekankan agar seluruh petugas melepaskan atribut personal dan bekerja secara transparan. Ia menyatakan bangga atas performa tim Landis dan fungsi terkait yang berjalan baik selama tugas.

Arienta menambahkan bahwa koordinasi sektor membuat pelaksanaan pendorongan ke Arafah dapat dimulai lebih awal dibandingkan sektor lain, sehingga mendukung kelancaran pendampingan jemaah lansia.

Seluruh narasi dan data disampaikan berdasarkan keterangan petugas dan kepala sektor yang terlibat dalam pelayanan Landis Sektor 5 di Makkah.