Ihram.co.id — Tim Formula 1, McLaren, mendorong perubahan aturan prosedur start balapan mulai musim 2026 dengan alasan keselamatan. Desakan ini mencuat setelah uji coba pramusim di Sirkuit Bahrain memperlihatkan potensi risiko baru akibat karakter mesin generasi terbaru.
Formula 1 2026 akan menjadi era baru F1 dengan regulasi mesin yang berubah signifikan. Salah satu perubahan penting adalah dihapusnya MGU-H (Motor Generator Unit-Heat), komponen yang selama ini berfungsi mengurangi turbo lag dengan memanfaatkan energi panas dari turbocharger.
Tanpa MGU-H, pembalap harus menahan putaran mesin lebih tinggi dan lebih lama saat start untuk menghindari kehilangan tenaga secara tiba-tiba.
Baca Juga: McLaren Desak FIA Perbaiki Aturan Keselamatan F1 2026 Sebelum GP Australia
Turbo Lag Picu Start Tak Stabil
Dalam tes pramusim, sejumlah pembalap terlihat memacu putaran mesin hingga 10–15 detik setelah kopling terhubung demi mengatasi turbo lag. Kondisi ini memunculkan variasi akselerasi yang lebih besar dibanding musim sebelumnya.
Jika pada musim lalu perbedaan start biasanya hanya dipengaruhi reaksi pembalap atau wheelspin, kini potensi kehilangan posisi bisa jauh lebih besar. Mobil yang gagal mendapatkan torsi optimal berisiko tertinggal signifikan dalam beberapa meter pertama, menciptakan potensi kekacauan di tikungan pertama.
Team Principal McLaren, Andrea Stella, menegaskan isu ini bukan soal keuntungan kompetitif, melainkan keselamatan di grid.
“Kami tidak sedang membahas siapa yang tercepat saat kualifikasi atau race pace. Ini tentang keselamatan di grid,” terang Stella sebagaimana kami kutip dari Crash.net, Senin (16/2).
“Grid bukan tempat untuk mobil yang lambat saat start. Jika ada penyesuaian sederhana yang bisa meningkatkan keselamatan, maka itu seharusnya menjadi prioritas.”
Pembalap McLaren, Oscar Piastri, bahkan menyebut kondisi ini berpotensi menjadi “recipe for disaster” jika tidak segera ditangani.
Menurutnya, perbedaan start pada musim sebelumnya relatif terkendali. Namun dengan karakter mesin baru, kegagalan kecil bisa berujung kehilangan banyak posisi sekaligus.
“Tahun lalu, start buruk mungkin hanya berarti sedikit wheelspin atau reaksi lambat. Tahun ini, bisa terasa seperti balapan F2, di mana mobil hampir masuk mode anti-stall,” kata Piastri.
“Anda bukan hanya kehilangan lima meter, tapi bisa langsung kehilangan enam atau tujuh posisi.”
Ia juga menyoroti aspek aerodinamika. Regulasi 2026 akan mengurangi tingkat downforce secara signifikan untuk meningkatkan efisiensi dan mendorong penggunaan tenaga listrik yang lebih besar. Kombinasi 22 mobil dengan downforce lebih rendah dan akselerasi tak merata dinilai berisiko tinggi di tikungan pertama.
Ferrari Pernah Peringatkan Masalah yang Sama
Menariknya, laporan menyebut bahwa Scuderia Ferrari sebenarnya telah memperingatkan potensi masalah ini sejak sekitar satu tahun lalu. Team principal Ferrari, Frédéric Vasseur, disebut telah mengangkat isu risiko start akibat penghapusan MGU-H dan meminta evaluasi regulasi lebih awal.
Namun saat itu kekhawatiran tersebut tidak mendapat dukungan luas. Ferrari dikabarkan telah mengembangkan unit daya 2026 mereka agar mampu meminimalkan dampak turbo lag, sehingga kini mereka cenderung enggan mengubah aturan setelah berinvestasi besar dalam solusi teknis tersebut.
Perbedaan pendekatan antar tim inilah yang kini memicu perdebatan menjelang finalisasi regulasi teknis 2026.
Baca Juga: Ferrari Tolak Ajukan Protes atas Mesin Mercedes, Desak Kejelasan Aturan FIA
Fokus pada Keselamatan, Bukan Keuntungan
McLaren menegaskan bahwa perubahan yang mereka usulkan bukan untuk keuntungan performa. Mereka meminta agar prosedur start disesuaikan sehingga seluruh mobil memiliki kesiapan tenaga yang lebih konsisten sebelum lampu start padam.
Dengan era baru F1 2026 yang juga akan menampilkan peningkatan porsi tenaga listrik hingga hampir 50 persen dari total output mesin, stabilitas dan konsistensi distribusi tenaga menjadi faktor krusial, terutama di momen paling rawan seperti start balapan.
Kini keputusan berada di tangan FIA dan seluruh tim peserta. Jika tak ada kesepakatan, risiko start yang lebih tidak terprediksi bisa menjadi salah satu tantangan besar di musim revolusioner 2026.
Ikuti Ihram.co.id
