Delapan komoditas pangan utama dinyatakan swasembada menurut proyeksi neraca pangan, tetapi beberapa tetap memicu inflasi karena masalah distribusi. Pemerintah menyoroti jarak antara sentra produksi dan pusat konsumsi sebagai penyebab kenaikan harga, khususnya pada cabai dan bawang merah.

Solusi yang diajukan adalah pembangunan sentra pangan baru di sekitar pusat konsumsi untuk memangkas ongkos angkut dan menstabilkan harga. Pernyataan itu disampaikan pejabat terkait dalam pertemuan pengendalian harga dan rapat koordinasi daerah.

Data Proyeksi Neraca Pangan 2026

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan 11 Komoditas Tahun 2026 (per 4 Juni 2026), delapan komoditas tercatat surplus: beras surplus 3.665.324 ton; cabai besar 568.188 ton; cabai rawit 678.512 ton; jagung 1.653.621 ton; daging ayam 1.310.318 ton (ekspor); telur ayam 820.652 ton (ekspor); bawang merah 87.106 ton (ekspor); dan gula konsumsi 207.477 ton.

Tiga komoditas masih defisit dan dipenuhi dari impor: bawang putih 694.770 ton, kedelai 2.494.897 ton, dan daging sapi/kerbau 183.379 ton. Total produksi 11 komoditas tercatat 73.755.193 ton sedangkan kebutuhan 68.137.041 ton sehingga surplus keseluruhan 5.618.152 ton.

Definisi Swasembada dan Penegasan Menteri

Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional menyatakan Indonesia telah memenuhi kriteria swasembada pangan menurut definisi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO, 1999), yakni mampu memproduksi minimal 90% kebutuhan nasional. Menteri menjelaskan tiga komoditas yang masih impor menyumbang total impor sekitar 3,5 juta ton.

“Total kebutuhan 11 komoditas itu 68 juta ton, produksi 73 juta ton, lalu 3,5 juta ton impor dibagi 73 juta ton produksi, itu 4-5%, sedangkan konsensus FAO (1999) itu 10% impor termasuk sudah swasembada,”

Menteri juga mengimbau kepala daerah untuk memahami capaian tersebut dan menyosialisasikannya ke jajaran pemerintahan daerah.

Tantangan Harga Komoditas Bergelombang

Menteri Dalam Negeri menyampaikan pengendalian harga beras berjalan baik sehingga bukan lagi penyumbang utama inflasi. Namun ia mencatat kenaikan harga masih terlihat pada bawang merah serta cabai merah dan rawit.

“Persoalannya, mungkin ini perlu ada sentra pangan baru. Contoh bawang merah, ini sentra produksinya jauh dan harus didistribusikan ke seluruh Indonesia, sehingga membuat adanya tambahan ongkos transportasi yang membuat harganya naik. Pun dengan cabai merah dan cabai rawit. Itu semua perlu sentra-sentra baru yang perlu diatur,”

Kepala Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa cabai merah dan bawang merah dominan memberi andil pada inflasi komponen bergejolak pada Mei 2026.

Beras, Stok, dan Intervensi

Kementerian Pertanian menyatakan pasokan beras aman dan bukan lagi pemicu inflasi. Untuk menjaga stabilitas, kementerian berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Perum Bulog, dan ID Food dalam penguatan distribusi serta stabilisasi harga.

Kementerian mendorong aktivasi pasar murah oleh pemerintah daerah dan Bulog untuk menekan fluktuasi harga sekaligus membantu petani dan peternak, termasuk peternak ayam dan telur yang menghadapi tekanan harga.

Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum Bulog melaporkan stok beras yang dikuasai Bulog per 15 Juni 2026 mencapai 5.231.682 ton, terdiri atas Cadangan Beras Pemerintah 5.220.679 ton dan komersial 11.003 ton. Stok tersebut tersebar di seluruh wilayah dan siap didistribusikan untuk intervensi pemerintah.

Pemerintah menjalankan intervensi harga beras melalui instrumen SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dan bantuan pangan. Penyaluran SPHP pada Mei 2026 mencapai 112.637 ton, naik 4.716 ton dari bulan sebelumnya, sehingga total distribusi mencapai 336.140 ton atau 40,6% dari target Maret–Desember 2026 sebesar 828 ribu ton.

Sementara itu, distribusi bantuan pangan beras terealisasi 545.790 ton dari pagu 664.888 ton. Realisasi bantuan minyak goreng mencapai 109.174.053 liter dari pagu 132.977.632 liter.