Ihram.co.id — Spekulasi soal masa depan mesin V4 Yamaha mencuat tajam usai hasil mengecewakan pada seri pembuka MotoGP Thailand 2026. Start buruk musim ini memicu rumor bahwa Yamaha MotoGP mempertimbangkan kembali ke mesin lama inline-four dan menunda proyek V4 hingga 2027.
Isu tersebut berkembang di tengah tekanan besar terhadap pabrikan asal Iwata yang tampak kesulitan bersaing sejak pramusim.
Baca Juga: Jorge Lorenzo Semprot Fabio Quartararo Usai Kritik Motor V4 Yamaha di MotoGP 2026
Awal Musim 2026 yang Penuh Tekanan
Musim 2026 menjadi era baru bagi Yamaha setelah resmi meninggalkan mesin inline-four yang digunakan selama bertahun-tahun. Mereka beralih ke konfigurasi V4, mengikuti mayoritas pabrikan lain seperti Ducati, Aprilia, KTM, dan Honda.
Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan performa dalam beberapa musim terakhir, termasuk setelah gelar juara dunia 2021 yang diraih Fabio Quartararo.
Namun, realita di lintasan Buriram jauh dari harapan. Quartararo hanya mampu finis di posisi ke-14, tertinggal sekitar 30 detik dari pemenang balapan, Marco Bezzecchi. Rekan setimnya, Alex Rins, finis ke-15 dengan selisih lebih dari 32 detik.
Situasi lebih berat dialami tim satelit Prima Pramac Yamaha, di mana Toprak Razgatlioglu dan Jack Miller finis di posisi 17 dan 18. Miller bahkan terpaut hingga 47 detik dari pemenang.
Hasil ini mempertegas bahwa Yamaha masih tertinggal jauh dari rival-rivalnya.
Rumor Kembali ke Inline-Four
Performa yang belum kompetitif memunculkan kabar bahwa Yamaha mempertimbangkan untuk kembali menggunakan mesin inline-four sementara waktu dan menunda pengembangan V4 hingga regulasi baru 2027 berlaku.
Sejumlah laporan menyebut desakan tersebut juga datang dari dalam, termasuk dari Quartararo yang sebelumnya terang-terangan mengkritik kurangnya daya saing motor baru. Dalam tes pramusim, pembalap Prancis berusia 26 tahun itu bahkan sempat menunjukkan gestur frustrasi terhadap motornya.
Yamaha sendiri pernah mengakui bahwa mereka tertinggal jauh dalam pengembangan mesin V4 dibanding pabrikan lain—bahkan menyebut gap tersebut setara “15 tahun” pengalaman.
Baca Juga: Fabio Quartararo Keluhkan Arah Pengembangan Motor Yamaha 2026, Akui Performa Masih Jauh dari Harapan
Media Blackout dan Klarifikasi Manajemen
Spekulasi makin menguat setelah Yamaha menerapkan “media blackout” terhadap para pembalapnya usai balapan Thailand. Tugas menghadapi media sepenuhnya diambil alih oleh manajer tim, Paolo Pavesio.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan publik soal kondisi internal tim. Pavesio secara terbuka mengakui Yamaha menghadapi “gunung setinggi 30 detik” untuk dikejar dari sisi performa.
Meski demikian, ia dengan tegas membantah kemungkinan kembali ke motor musim lalu.
“Kami tahu bahwa jika tidak mencoba sekarang, kami tidak akan siap pada 2027,” ujarnya. “Ini bukan berarti 2026 hanya menjadi tahun pengembangan, tetapi kami menerima posisi kami saat ini dan akan terus belajar di setiap balapan.”
Pernyataan itu menegaskan Yamaha belum berniat mundur dari proyek V4, meski tekanan kian besar.
Taruhan Besar Menuju Era Baru 2027
Musim 2027 akan menjadi tonggak perubahan besar MotoGP dengan regulasi mesin baru berkapasitas 850cc. Yamaha diyakini ingin memastikan fondasi teknis mereka siap sebelum memasuki era tersebut.
Namun, dengan performa yang masih jauh dari kompetitif, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah Yamaha mampu mempercepat progres V4 dalam waktu singkat, atau tekanan hasil instan akan memaksa mereka mengambil langkah pragmatis?
Baca Juga: Fabio Quartararo Pesimis Yamaha Bisa Kompetitif di MotoGP 2026
Untuk saat ini, manajemen memilih bertahan. Tapi jika hasil serupa terus berulang dalam beberapa seri ke depan, wacana kembali ke mesin lama bisa saja berubah dari rumor menjadi opsi nyata.
Ikuti Ihram.co.id
