Ihram.co.id — Aset digital kripto menghadapi tantangan signifikan dalam sepekan terakhir, baik di pasar global maupun domestik. Sejumlah token kripto terpantau bergerak di zona merah, terimbas oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait isu Greenland.
Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin (BTC) sempat anjlok ke level terendahnya pada Kamis (22/1) di US$ 87.563,4 atau sekitar Rp 1,4 miliar. Meskipun sempat naik kembali pada Sabtu (24/1), harganya masih terkoreksi 5,87% menjadi US$ 89.481,87 atau Rp 1,5 miliar.
Pelemahan ini juga menyeret altcoin lain, seperti Ethereum (ETH) yang melemah 10,28% ke US$ 2.957,46 (Rp 49,61 juta) dan BNB yang turun 5,28% ke US$ 891,24 (Rp 14,9 juta).
Sentimen Konflik Mereda Dongkrak Pasar
Kondisi pasar mulai membaik seiring meredanya tensi geopolitik antara AS dan Eropa, serta penundaan ancaman tarif. Indeks Fear & Greed kripto pun menunjukkan kenaikan tipis ke level 34, meskipun masih berada dalam area fear (ketakutan).
Menariknya, aksi borong Bitcoin dalam jumlah besar oleh investor kakap atau whale terdeteksi mencapai 1.000 BTC di tengah koreksi harga. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa pola ini seringkali muncul menjelang fase rebound di tengah aksi jual investor ritel.
“Ketika whale aktif membeli di bawah US$ 90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi,” ujar Fyqieh dikutip dari detikfinance, Sabtu (24/1/2026). Namun, ia menambahkan bahwa rebound ini masih membutuhkan konfirmasi lanjutan karena tekanan dari sisi makroekonomi dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda.
Secara teknikal, BTC masih menghadapi resistensi jangka pendek di area rata-rata pergerakan sepekan pada US$ 92.864. Fyqieh menilai, penguatan signifikan baru akan terjadi jika BTC mampu menembus level tersebut. Kendati demikian, penguatan BTC masih dibayangi oleh tekanan arus keluar ETF Bitcoin yang mencapai US$ 707,3 juta (Rp 11,8 triliun) pada 21 Januari, serta hambatan teknikal yang lebih besar pada pergerakan 200 hari di US$ 105.541.
Pelaku pasar kini akan mencermati langkah akumulasi whale dan spot exchange outflows sebagai sinyal pengetatan suplai. Di pasar global, pernyataan positif datang dari mantan Presiden AS Donald Trump, namun sentimen ini diperkirakan tertahan oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Hal ini berpotensi menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed hingga Juni 2026.
Ekosistem Kripto Domestik Dilanda Krisis Kepercayaan
Di pasar domestik, bursa kripto Indonesia masih bergulat dengan tantangan kepercayaan pasar. Sepanjang tahun 2025, transaksi kripto mengalami koreksi tajam menjadi Rp 482,23 triliun, turun dari Rp 650 triliun pada tahun sebelumnya.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, sebanyak 72% dari 29 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) atau bursa kripto di Indonesia masih merugi di tahun 2025. Fenomena ini terjadi karena investor domestik cenderung memilih bertransaksi di sejumlah platform bursa kripto global.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai rendahnya kepercayaan investor berdampak pada minimnya volume transaksi di platform domestik. Ia menekankan perlunya dukungan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri kripto dalam negeri.
“Masih banyaknya PAKD yang merugi menunjukkan industri ini masih berada pada fase pertumbuhan yang menuntut skala, efisiensi operasional, dan penguatan kepercayaan pasar,” kata Calvin dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/1/2026).
Calvin menambahkan, dibutuhkan ruang untuk mendorong efisiensi biaya melalui insentif yang tepat, seperti insentif pajak dan struktur pendapatan yang berimbang. Penerapan komponen biaya ekosistem, seperti exchange fee, juga diharapkan dapat membantu pelaku usaha berinvestasi lebih besar pada kepatuhan dan perlindungan pengguna.
Penguatan perlindungan konsumen juga menjadi krusial, mengingat mayoritas investor kripto di Indonesia memiliki pendapatan di bawah Rp 8 juta per bulan dan didominasi usia di bawah 35 tahun dengan pendidikan SMA, berdasarkan riset LPEM FEB UI.
Kolaborasi antarpihak untuk memberantas bursa kripto ilegal juga dinilai penting, mengingat potensi hilangnya kontribusi pajak industri hingga Rp 1,7 triliun per tahun.
“Penegakan terhadap platform ilegal harus tegas, tapi juga perlu dibarengi literasi dan kolaborasi regulator, industri, komunitas, dan akademisi. Targetnya bukan hanya pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang aman dan berkelanjutan,” pungkas Calvin.
Aset digital kripto menghadapi tantangan signifikan dalam sepekan terakhir, baik di pasar global maupun domestik. Sejumlah token kripto terpantau bergerak di zona merah, terimbas oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait isu Greenland.
Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin (BTC) sempat anjlok ke level terendahnya pada Kamis (22/1) di US$ 87.563,4 atau sekitar Rp 1,4 miliar. Meskipun sempat naik kembali pada Sabtu (24/1), harganya masih terkoreksi 5,87% menjadi US$ 89.481,87 atau Rp 1,5 miliar.
Pelemahan ini juga menyeret altcoin lain, seperti Ethereum (ETH) yang melemah 10,28% ke US$ 2.957,46 (Rp 49,61 juta) dan BNB yang turun 5,28% ke US$ 891,24 (Rp 14,9 juta).
Sentimen Konflik Mereda Dongkrak Pasar
Kondisi pasar mulai membaik seiring meredanya tensi geopolitik antara AS dan Eropa, serta penundaan ancaman tarif. Indeks Fear & Greed kripto pun menunjukkan kenaikan tipis ke level 34, meskipun masih berada dalam area fear (ketakutan).
Menariknya, aksi borong Bitcoin dalam jumlah besar oleh investor kakap atau whale terdeteksi mencapai 1.000 BTC di tengah koreksi harga. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa pola ini seringkali muncul menjelang fase rebound di tengah aksi jual investor ritel.
“Ketika whale aktif membeli di bawah US$ 90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi,” ujar Fyqieh dikutip dari detikfinance, Sabtu (24/1/2026). Namun, ia menambahkan bahwa rebound ini masih membutuhkan konfirmasi lanjutan karena tekanan dari sisi makroekonomi dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda.
Secara teknikal, BTC masih menghadapi resistensi jangka pendek di area rata-rata pergerakan sepekan pada US$ 92.864. Fyqieh menilai, penguatan signifikan baru akan terjadi jika BTC mampu menembus level tersebut. Kendati demikian, penguatan BTC masih dibayangi oleh tekanan arus keluar ETF Bitcoin yang mencapai US$ 707,3 juta (Rp 11,8 triliun) pada 21 Januari, serta hambatan teknikal yang lebih besar pada pergerakan 200 hari di US$ 105.541.
Pelaku pasar kini akan mencermati langkah akumulasi whale dan spot exchange outflows sebagai sinyal pengetatan suplai. Di pasar global, pernyataan positif datang dari mantan Presiden AS Donald Trump, namun sentimen ini diperkirakan tertahan oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Hal ini berpotensi menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed hingga Juni 2026.
Ekosistem Kripto Domestik Dilanda Krisis Kepercayaan
Di pasar domestik, bursa kripto Indonesia masih bergulat dengan tantangan kepercayaan pasar. Sepanjang tahun 2025, transaksi kripto mengalami koreksi tajam menjadi Rp 482,23 triliun, turun dari Rp 650 triliun pada tahun sebelumnya.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, sebanyak 72% dari 29 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) atau bursa kripto di Indonesia masih merugi di tahun 2025. Fenomena ini terjadi karena investor domestik cenderung memilih bertransaksi di sejumlah platform bursa kripto global.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai rendahnya kepercayaan investor berdampak pada minimnya volume transaksi di platform domestik. Ia menekankan perlunya dukungan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri kripto dalam negeri.
“Masih banyaknya PAKD yang merugi menunjukkan industri ini masih berada pada fase pertumbuhan yang menuntut skala, efisiensi operasional, dan penguatan kepercayaan pasar,” kata Calvin dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/1/2026).
Calvin menambahkan, dibutuhkan ruang untuk mendorong efisiensi biaya melalui insentif yang tepat, seperti insentif pajak dan struktur pendapatan yang berimbang. Penerapan komponen biaya ekosistem, seperti exchange fee, juga diharapkan dapat membantu pelaku usaha berinvestasi lebih besar pada kepatuhan dan perlindungan pengguna.
Penguatan perlindungan konsumen juga menjadi krusial, mengingat mayoritas investor kripto di Indonesia memiliki pendapatan di bawah Rp 8 juta per bulan dan didominasi usia di bawah 35 tahun dengan pendidikan SMA, berdasarkan riset LPEM FEB UI.
Kolaborasi antarpihak untuk memberantas bursa kripto ilegal juga dinilai penting, mengingat potensi hilangnya kontribusi pajak industri hingga Rp 1,7 triliun per tahun.
“Penegakan terhadap platform ilegal harus tegas, tapi juga perlu dibarengi literasi dan kolaborasi regulator, industri, komunitas, dan akademisi. Targetnya bukan hanya pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang aman dan berkelanjutan,” pungkas Calvin.
Ikuti Ihram.co.id
