— Keputusan Pramac Racing meninggalkan Ducati dan beralih ke Yamaha kembali menjadi sorotan setelah hasil mengecewakan di seri pembuka MotoGP Thailand 2026. Tim yang dua musim lalu berdiri di puncak kejayaan kini justru terpuruk di papan bawah klasemen.

Hasil di Buriram mempertegas tren penurunan performa yang sudah terlihat sejak musim 2025.

Pramac mencetak sejarah pada 2024 saat merebut gelar dunia bersama Jorge Martin menggunakan Ducati Desmosedici. Mereka menjadi tim independen pertama yang berhasil meraih titel juara dunia di era MotoGP modern.

Namun situasi berubah drastis hanya dalam waktu satu musim. Setelah Martin hengkang ke Aprilia akibat gagal mendapat kursi tim pabrikan Ducati, Pramac juga memilih berpisah dari pabrikan Italia tersebut dan menjalin kemitraan baru dengan Yamaha mulai 2025.

Langkah itu awalnya dipandang sebagai proyek ambisius jangka panjang. Tetapi hasil di lintasan justru menunjukkan sebaliknya.

Hasil Buriram Pertegas Krisis

Pada MotoGP Thailand 2026, duet Jack Miller dan rookie Toprak Razgatlioglu hanya mampu finis di posisi 17 dan 18. Miller tertinggal hingga 47 detik dari pemenang balapan.

Performa tersebut menegaskan bahwa motor Yamaha YZR-M1, yang kini menggunakan mesin V4 terbaru, masih jauh dari kompetitif. Permasalahan utama terletak pada kurangnya kecepatan murni dan konsistensi selama balapan penuh.

Situasi ini melanjutkan tren buruk musim 2025, ketika Miller dan Miguel Oliveira hanya mengumpulkan total 125 poin sepanjang musim, membuat Pramac finis di posisi terakhir klasemen tim.

Baca Juga: Meski Tanpa Poin, Debut Toprak Razgatlioglu di MotoGP Thailand 2026 Tuai Pujian

Proyek V4 Belum Menjawab Harapan

Yamaha mengembangkan mesin V4 untuk mengejar ketertinggalan dari Ducati, Aprilia, dan KTM. Pramac diharapkan menjadi bagian penting dalam proses pengembangan tersebut.

Namun hingga awal musim 2026, belum terlihat lonjakan performa signifikan. Data simulasi balapan dari tes pramusim menunjukkan progres terbatas, dan hasil di Thailand memperlihatkan jarak yang masih lebar dengan barisan depan.

Kondisi ini memunculkan laporan bahwa Pramac mulai kesulitan melihat potensi keberhasilan nyata dari keputusan hengkang dari Ducati.

Sorotan dan Tekanan Internal

Keraguan bukan hanya datang dari luar. Pembalap utama Yamaha, Fabio Quartararo, sebelumnya menyampaikan ekspektasi tinggi terhadap kolaborasi baru ini, berharap tambahan tim satelit dapat mempercepat pengembangan motor.

Namun kenyataan di lintasan menunjukkan Yamaha dan Pramac masih berjuang menemukan paket kompetitif.

Di sisi lain, Ducati justru terus tampil konsisten di barisan depan, memperbesar kontras antara performa lama dan kondisi Pramac saat ini.

Baca Juga: Proyek V4 Gagal Total di MotoGP Thailand 2026? Yamaha Dikabarkan Ingin Kembali ke Mesin Lama

Dalam dunia MotoGP yang bergerak cepat, keputusan strategis bisa berdampak drastis dalam waktu singkat. Dari juara dunia 2024 hingga terpuruk di awal 2026, perjalanan Pramac menjadi contoh nyata dinamika ekstrem di paddock.

Meski proyek Yamaha disebut sebagai investasi jangka panjang, hasil instan tetap menjadi parameter utama dalam persaingan kelas premier. Jika tren negatif berlanjut, tekanan terhadap manajemen dan arah proyek akan semakin besar.

MotoGP 2026 masih panjang, tetapi satu hal jelas: keputusan Pramac meninggalkan Ducati kini benar-benar berada di bawah sorotan tajam.