— Legenda MotoGP, Valentino Rossi, disebut turun langsung membantu muridnya, Francesco Bagnaia, saat performa sang juara dunia merosot tajam bersama Ducati pada musim 2025. Di tengah tekanan internal tim dan sorotan publik, Rossi mengambil peran aktif untuk menjaga mentalitas serta arah karier Bagnaia.

Bagnaia yang sebelumnya tampil dominan bersama Ducati—dengan dua gelar juara dunia MotoGP pada 2022 dan 2023—mengalami musim sulit pada 2025. Ia hanya mampu meraih dua kemenangan dan delapan podium, serta menutup musim di peringkat kelima klasemen akhir. Catatan itu menjadi yang terburuk sejak ia naik ke tim pabrikan.

Baca Juga: Soal Konflik 2015, Bagnaia Tegaskan Marc Marquez Tak Wajib Berdamai dengan Valentino Rossi

Rossi Ingin Pahami Akar Masalah di Garasi

Penurunan performa tersebut memicu banyak pertanyaan, termasuk dari manajemen Ducati. Bagnaia mengakui suasana di garasi tim sempat dipenuhi “kebisingan” akibat berbagai analisis dan tekanan untuk segera menemukan solusi.

Dalam situasi itu, Rossi tidak tinggal diam. Juara dunia sembilan kali itu bahkan disebut ingin bertemu langsung dengan crew chief Bagnaia, Cristian Gabarrini, untuk memahami situasi teknis dan psikologis yang sedang dihadapi pembalap asal Italia tersebut.

“Vale selalu sangat hadir dalam apa yang kami lakukan. Dia ingin memahami apa yang bisa dia bantu. Pengalamannya menghadapi momen sulit sangat membantu saya,” ujar Bagnaia dalam sebuah wawancara.

Sebagai pendiri VR46 Riders Academy, Rossi memang memiliki hubungan mentor-murid yang kuat dengan Bagnaia. Keduanya rutin berdiskusi, termasuk dalam momen-momen kritis musim lalu.

Ubah Pola Pikir, Bukan Hanya Soal Menang

Salah satu nasihat penting Rossi kepada Bagnaia adalah soal mentalitas. Ketika hasil tak sesuai harapan, Rossi meminta muridnya untuk tetap merayakan setiap pencapaian, termasuk finis podium.

Bagnaia mengakui dirinya sempat terlalu terobsesi dengan kemenangan. Padahal dalam situasi motor yang tidak sepenuhnya kompetitif, posisi ketiga atau kedua tetap merupakan hasil positif yang harus dihargai.

“Setiap hasil harus dipahami dan dirayakan jika memang layak dirayakan. Dalam kondisi sulit, podium itu sangat berarti,” kata Bagnaia.

Pendekatan tersebut dinilai membantu mengurangi tekanan internal dan mengembalikan fokusnya pada proses adaptasi serta pengembangan motor.

Baca Juga: Bagnaia Ungkap Biang Kerok Performa Buruknya di MotoGP 2025, Terlalu Banyak Intervensi di Garasi

Dampak pada Masa Depan di Ducati

Musim 2025 yang mengecewakan memicu spekulasi mengenai masa depan Bagnaia di Ducati. Manajemen tim disebut tengah mempersiapkan strategi jangka panjang menyambut regulasi baru 2027, yang mencakup perubahan mesin 850cc dan pembatasan aerodinamika.

Di tengah dinamika tersebut, nama Bagnaia sempat dikaitkan dengan beberapa tim pabrikan lain. Namun, hingga kini ia tetap menegaskan komitmennya untuk bersaing di level tertinggi dan hanya mempertimbangkan tim dengan status pabrikan penuh.

Peran Rossi dalam fase krisis ini dinilai krusial, bukan hanya sebagai mentor teknis, tetapi juga sebagai figur yang menjaga stabilitas mental sang pembalap.

Titik Balik Menuju Kebangkitan

Meski musim 2025 berjalan berat, Bagnaia tetap menunjukkan potensi saat mampu meraih beberapa podium di paruh akhir musim. Banyak pihak meyakini bahwa dengan dukungan teknis yang tepat dan stabilitas mental yang kembali terjaga, ia bisa kembali menjadi penantang gelar.

Keterlibatan langsung Valentino Rossi dalam masa sulit tersebut menjadi bukti kuatnya hubungan di antara keduanya. Di tengah badai performa dan tekanan di garasi Ducati, sang legenda memilih turun tangan demi memastikan karier muridnya tidak terhenti di puncak krisis.

Baca Juga: Francesco Bagnaia Akui Ducati Tak Lagi Tercepat, Aprilia Racing Dominasi MotoGP Thailand 2026

Musim berikutnya pun akan menjadi pembuktian apakah intervensi sang mentor mampu menjadi titik balik kebangkitan Francesco Bagnaia.