Harga batu bara bergejolak pada perdagangan Jumat (19/6/2026) setelah gangguan pasokan domestik di China mendorong lonjakan impor. Insiden fatal di sejumlah tambang membuat importir menambah pembelian dari negara pemasok utama, sehingga memengaruhi pasar global.
Data perdagangan menunjukkan pergerakan beragam antar-kontrak. Harga Newcastle kontrak Juni 2026 tercatat stabil di US$ 144 per ton, sementara kontrak Juli turun tipis ke US$ 131,5 per ton dan kontrak Agustus naik tipis ke US$ 130,85 per ton.
Lonjakan Di Rotterdam
Di bursa Rotterdam, harga juga bergerak naik. Kontrak Juni 2026 melonjak US$ 1,85 menjadi US$ 126,1 per ton. Kontrak untuk pengiriman Juni lainnya tercatat naik US$ 4,3 menjadi US$ 114,7 per ton, dan kontrak Agustus meningkat US$ 3,25 ke US$ 112,6 per ton.
Penutupan Tambang dan Dampaknya
Gangguan pasokan di China dipicu penutupan 155 tambang di Provinsi Shanxi untuk pemeriksaan keselamatan, menyusul insiden pada akhir Mei 2026. Penutupan tersebut sempat menekan pasokan lokal dan mendorong kenaikan harga batu bara kokas di pasar domestik.
Meski sebagian tambang telah kembali beroperasi, pemulihan produksi belum sepenuhnya tuntas. Survei oleh konsultan industri Mysteel menunjukkan sekitar 64% kapasitas produksi yang terdampak telah pulih hingga 17 Juni 2026.
Pengakuan Pelaku Pasar
Johnny Deng, Wakil Manajer Logam Ferrous Gent Commodity, mengatakan produksi masih di bawah level sebelum kecelakaan. Ia menilai tingkat utilisasi tambang sekarang berkisar 70%–80%, turun dari 105%–110% sebelumnya.
Ihram.co.id — “Kami membeli beberapa kargo dari Kanada dan mengimpornya ke China setelah harga melonjak pascakecelakaan tersebut,” ujar Deng dalam konferensi batu bara kokas di Singapura.
Ikuti Ihram.co.id
