Harga Bitcoin (BTC) menguat pada Sabtu pagi, namun pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang kedaluwarsa kontrak opsi Bitcoin senilai sekitar US$13 miliar pada akhir Juni.
Berdasarkan data CoinMarketCap, kapitalisasi pasar kripto global naik 0,55% menjadi US$2,18 triliun. Harga Bitcoin tercatat naik 0,85% ke US$63.524 per koin, atau sekitar Rp1,13 miliar dengan kurs Rp17.826 per dolar AS.
Pergerakan Aset Kripto Lainnya
Indeks CoinDesk 20 menguat 0,56%. Beberapa aset bergerak beragam: Binance (BNB) naik 0,42% ke US$581, Dogecoin (DOGE) meningkat 0,01% ke US$0,08. Di sisi lain, Solana (SOL) turun 0,06% menjadi US$69,71, Ethereum melemah 0,3% ke US$1.708, dan XRP anjlok 0,78% ke US$1,13.
Besarnya Eksposur Opsi dan Dominasi Deribit
Pasar kripto bersiap menghadapi kedaluwarsa opsi Bitcoin sekitar US$13 miliar pada 26 Juni 2026. Besarnya nilai kontrak yang akan jatuh tempo dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap harga Bitcoin, terutama karena banyak posisi call kini tidak menguntungkan.
Deribit mendominasi pasar opsi Bitcoin dengan open interest mencapai US$10,4 miliar atau sekitar 79% pangsa pasar global. Bursa lain seperti OKX menguasai sekitar 6%, Binance dan CME masing-masing 5%, serta Bybit 4%.
Struktur Posisi Call dan Put
Total open interest opsi call di Deribit mencapai US$6 miliar, namun sekitar 78% berada pada strike US$72.000 atau lebih tinggi. Dengan waktu kurang dari sepekan menuju expiry, peluang banyak kontrak call berakhir tanpa nilai semakin besar jika harga Bitcoin tidak pulih signifikan.
Dari sisi put, total open interest mencapai US$4,5 miliar, tetapi hanya sekitar 28% bergantung pada skenario harga Bitcoin turun hingga US$57.000 atau lebih rendah. Kondisi ini membuat posisi bearish dinilai lebih kuat dibanding bullish menjelang akhir bulan.
Sentimen Pasar dan Faktor Pemicu
Penurunan harga Bitcoin sekitar 14% sepanjang Juni menempatkan banyak pembeli opsi call dalam kondisi tertekan. Analis menyoroti bahwa sebagian optimisme sebelumnya dipicu oleh aksi pembelian besar-besaran oleh perusahaan Strategy (MSTR) pada April–Mei, yang mengakumulasi 62.841 BTC dan sempat mendorong harga menembus US$73.000 pada Mei.
Namun, sentimen berubah setelah arus dana keluar dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mulai terjadi sejak pertengahan Mei. Harapan terhadap percepatan pengesahan Digital Asset PARITY Act di AS juga mulai memudar, padahal rancangan itu sebelumnya diharapkan memberi keringanan pajak pada aktivitas mining dan staking sampai aset dijual.
Proyeksi Pada Saat Kedaluwarsa
Berdasarkan simulasi posisi opsi di Deribit, investor bearish diperkirakan masih akan mendominasi di berbagai skenario harga saat kontrak berakhir. Jika Bitcoin berada di kisaran US$57.000–61.000 saat expiry, keunggulan put diperkirakan sekitar US$3,4 miliar. Pada rentang US$61.001–65.000, keunggulan put sekitar US$2,7 miliar.
Jika harga bergerak di kisaran US$65.001–69.000, opsi put masih unggul sekitar US$1,7 miliar. Bahkan pada rentang US$69.001–71.000, posisi bearish diperkirakan masih memiliki keunggulan sekitar US$1 miliar. Data itu menunjukkan reli sekitar 12% dari level saat ini belum cukup mengubah dominasi bearish pada expiry Juni.
Meski hasil kedaluwarsa opsi tidak otomatis menentukan arah pasar pada Juli, banyak pelaku pasar memperkirakan sentimen bullish akan menghadapi tantangan dalam jangka pendek jika tekanan jual berlanjut setelah expiry.
Ikuti Ihram.co.id
