Stok beras nasional dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga puncak panen pada Maret–April 2027. Pemerintah menyebut cadangan dari Perum Bulog, industri, dan standing crop mampu menutup kebutuhan selama 10–11 bulan ke depan.

Meskipun stok memadai, kementerian terkait menegaskan kewaspadaan terhadap potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino tetap ditingkatkan melalui langkah mitigasi dan adaptasi.

Komposisi Cadangan Beras

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menyatakan, per 18 Juni 2026 cadangan beras pemerintah di Bulog tercatat sekitar 5,2 juta ton. Selain itu, sektor horeka menyimpan sekitar 12,5 juta ton, dan standing crop di lahan padi diperkirakan 10–11 juta ton.

“Dengan cadangan tiga-tiganya itu bisa (cukup) 10-11 bulan ke depan. Anggaplah terendah 10 bulan, Juli–April itu 10 bulan ke depan, itu cukup. Sedangkan di Maret sudah panen puncak (2027),” ujar Mentan usai melaporkan kondisi pangan nasional ke Presiden di Istana Kepresidenan, Kamis (18/06/2026).

Mitigasi Risiko El Nino

Menurut Andi Amran, ketersediaan stok yang ada memungkinkan pemerintah untuk memitigasi dampak El Nino sebagaimana diperlihatkan oleh pemantauan BMKG. Namun, ia menekankan arahan presiden untuk tetap waspada dan menindaklanjuti potensi tersebut.

Untuk menghadapi kekeringan, Kementerian Pertanian telah melaksanakan sejumlah langkah, antara lain pembangunan embung, irigasi pompa, sumur dalam, pompanisasi, serta optimalisasi lahan rawa agar produktivitasnya meningkat dari satu kali panen menjadi dua hingga tiga kali setahun. Program cetak sawah juga terus dilanjutkan.

“Kita sudah lakukan itu semua, cetak sawah kita lanjutkan, itu seluruhnya bisa memitigasi risiko, insyaallah pangan aman,” kata Mentan.

Kesiapan Hadapi Musim Kemarau

Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi menyatakan kesiapan menghadapi musim kemarau 2026 lebih baik dibanding periode sebelumnya. Berbagai program penguatan produksi, seperti oplah, cetak sawah, pembangunan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, dan penguatan koordinasi pusat-daerah, telah dijalankan.

Ia juga menyebut kondisi iklim pada 2026 tidak sama dengan El Nino kuat pada 2015 maupun 2023 berdasarkan pemantauan BMKG dan satelit NOAA, sehingga yang diperlukan adalah peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, terutama menjelang puncak musim kemarau pada Juli–September.

Harga TBS Sawit

Selain laporan stok beras, Mentan juga melaporkan perkembangan sektor hortikultura, peternakan, dan perkebunan, termasuk harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kepada Presiden.

Presiden, menurut Mentan, meminta agar harga TBS berpihak kepada petani dengan penyesuaian mengikuti kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) dunia. Pemerintah sebelumnya menemukan anomali di tingkat petani ketika harga CPO global dan nilai tukar dolar menguat namun harga TBS turun.

Mentan menyatakan saat ini harga TBS mulai pulih. Dari sekitar 1.900 pabrik kelapa sawit yang beroperasi, awalnya 274 perusahaan belum menyesuaikan harga TBS sesuai perkembangan harga CPO, namun setelah penanganan, tinggal sekitar 5–10 persen perusahaan yang belum menyesuaikan.

“Yang masih belum (menyesuaikan) kurang lebih 100 (perusahaan), sekitar 5-10%, 90% sudah kembali seperti semula,” ujar Mentan. Ia berharap tata kelola sawit membaik seiring kebijakan ekspor melalui BUMN sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat.