PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih menarik perhatian investor sebagai saham blue chip yang diperdagangkan relatif murah dibanding rata-rata kompetitor di industri telekomunikasi. Pada penutupan perdagangan Kamis (17/6/2026) harga saham TLKM tercatat di Rp2.780, turun 6,08% dari hari sebelumnya.

Meskipun mengalami koreksi, sejumlah rumah riset melihat ruang kenaikan yang signifikan. Kiwoom Sekuritas Indonesia menempatkan target harga TLKM di Rp3.630, yang merepresentasikan upside sekitar 30,57% dari harga saat ini.

Analisis Kiwoom disusun menggunakan kombinasi metode valuasi EV/EBITDA dan Discounted Cash Flow (DCF), serta mempertimbangkan prospek jangka panjang perusahaan. Senior Equity Analyst Kiwoom, Sukarno Alatas, mencatat target harga tersebut mencerminkan estimasi forward P/E 13,7x, EV/EBITDA 4,4x, dan PBV 2,2x.

Sukarno menambahkan bahwa saham TLKM saat ini diperdagangkan pada estimasi P/E sekitar 10,85x jika harga berada di level Rp2.860 per saham. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata sektor dengan P/E 14,25x, sementara PBV TLKM sedikit di atas rata-rata kompetitor.

Risiko Bisnis dan Tekanan ARPU

Kiwoom memperingatkan bahwa 2026 masih menyimpan sejumlah tantangan bagi Telkom. Risiko yang disebutkan meliputi tekanan pada average revenue per user (ARPU), persaingan industri yang ketat, belanja modal (capex) tinggi, perubahan teknologi cepat, serta regulasi dan intervensi pemerintah.

Dalam catatan Kiwoom, ARPU seluler Telkom turun 3,2% secara tahunan menjadi Rp43 ribu pada 2025, sementara ARPU IndiHome turun 9,9% menjadi Rp214 ribu. Jumlah pelanggan seluler relatif stabil di 159,1 juta, sedangkan pelanggan IndiHome B2C tumbuh 7,4% menjadi 10,3 juta pelanggan.

Sukarno menyoroti tantangan monetisasi setelah ekspansi jaringan: unit BTS meningkat menjadi 293 ribu (naik 8,1% yoy), tapi konsumsi data pelanggan justru menyusut 14,3% yoy menjadi 17,47 TB. “Kombinasi antara penurunan ARPU dan persaingan yang ketat terus membebani pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas perseroan,” ujarnya.

Penilaian Lain dan Proyeksi Kinerja

Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menilai harga wajar Telkom berada di sekitar Rp3.400 dengan pendekatan tiga metode valuasi. Pertama, asumsi P/E 14x dengan EPS FY26 sebesar Rp232. Kedua, mempertimbangkan target imbal hasil dividen 6,5% dengan DPS Rp207. Ketiga, asumsi EV/EBITDA 4,8x dengan proyeksi EBITDA FY26 sebesar Rp76,2 triliun.

KISI menyatakan Telkom memimpin pasar telekomunikasi Indonesia dengan pangsa pasar seluler lebih dari 60% melalui Telkomsel, serta memimpin layanan broadband tetap melalui IndiHome dengan sekitar 10,3 juta pelanggan. KISI menilai neraca TLKM lebih kuat dan defensif dibandingkan emiten telekomunikasi lain, sehingga menarik sebagai saham dividen berkualitas.

Proyeksi KISI, yang mengutip data eksternal, menunjukkan pendapatan Telkom diperkirakan tumbuh dengan CAGR 1,7% menuju Rp157,2 triliun pada 2028. Segmen fixed broadband (IndiHome) dipandang sebagai motor pertumbuhan, dengan estimasi pelanggan naik menjadi sekitar 13,4 juta pada 2028.

Meski menghadapi tekanan ARPU, KISI memperkirakan Telkom mampu mempertahankan margin EBITDA di kisaran 50% berkat pengelolaan biaya yang disiplin. Perkiraan laba bersih yang disebutkan adalah Rp23,1 triliun pada 2026, Rp24,3 triliun pada 2027, dan Rp23,7 triliun pada 2028.